On-Ground Activation

AR Experience untuk Event Brand, dari Pilihan Format sampai Kesiapan Lokasi

Empat format AR yang realistis untuk booth dan atrium mal, kapan lantai interaktif atau VR lebih tepat, hal yang wajib dicek di venue, aturan foto pengunjung, serta faktor biaya dan waktu produksi.

Halte bus bertema Decolgen dengan papan berisi QR code dan ajakan memainkan game selagi menunggu bus
Daftar isi

AR experience untuk event brand paling berhasil ketika pengunjung paham cara mainnya dalam lima detik, melihat dirinya sendiri di layar, lalu pulang membawa foto atau video yang layak diunggah. Kalau salah satu dari tiga hal itu hilang, AR biasanya berakhir sebagai layar menyala di pojok booth yang lebih sering dicoba promotor sendiri. Keputusan terpentingnya ada pada kecocokan format AR dengan luas area, alur pengunjung, dan pencahayaan lokasi, bukan pada seberapa canggih teknologinya.

Pertanyaan ini makin sering datang menjelang akhir tahun. Mal di Jakarta ramai keluarga saat libur sekolah Desember, dan banyak brand mengincar atrium yang sama pada pekan yang sama. AR bisa memberi booth Anda alasan untuk didatangi, asal disiapkan dengan hitungan lapangan yang benar.

Empat format AR experience untuk event brand

Istilah AR dipakai untuk banyak hal. Supaya brief ke vendor tidak multitafsir, bedakan dulu empat format berikut. Masing-masing punya kebutuhan ruang dan kapasitas antrean yang berbeda.

AR mirror atau layar cermin

Kamera dipasang di atas layar portrait. Pengunjung berdiri di titik yang ditandai, lalu melihat dirinya di layar dengan tambahan kostum, karakter, atau produk yang mengikuti gerak tubuh. Format ini paling mudah dipahami karena tidak butuh ponsel dan tidak butuh instruksi panjang. Kelemahannya jelas: satu layar melayani satu atau dua orang sekaligus, jadi sesi perlu dibatasi 30 sampai 60 detik agar antrean tetap bergerak.

Kolase aktivasi luar ruang: kios silinder merah dengan lingkaran lampu di lantai dan layar portrait, antrean pengunjung, kartu cetak, dan billboard
Titik berdiri bermarka di lantai dan layar portrait di samping kios, dua elemen yang juga dibutuhkan AR mirror.

WebAR lewat QR code

Pengunjung memindai QR, browser ponsel membuka kamera, lalu objek 3D atau filter muncul tanpa perlu mengunduh aplikasi. Kapasitasnya longgar karena setiap orang memakai ponselnya sendiri. Masalahnya ada di sinyal. Di basement, hall pameran, atau atrium yang padat, halaman WebAR yang berat bisa gagal dimuat, dan pengunjung tidak akan mencoba dua kali. Jaga ukuran aset 3D tetap kecil dan sediakan Wi-Fi khusus bila venue mengizinkan. QR juga tidak harus menunggu di dalam booth. Halte bus bertema brand memberi orang beberapa menit menunggu, waktu yang cukup untuk memindai kode dan mencoba konten singkat.

AR yang ditayangkan ke layar besar

Kamera menangkap area panggung atau titik berdiri, lalu hasil AR-nya tampil di LED berukuran besar. Satu orang bermain, puluhan orang menonton. Format ini cocok untuk launching, konser, atau aktivasi di ruang terbuka, karena penonton ikut menjadi bagian dari tontonan dan antrean terbentuk dengan sendirinya.

AR portal dan scene di dalam booth

Pengunjung memegang tablet atau memakai ponselnya untuk melihat booth berubah: dinding polos menjadi pemandangan, kemasan produk membuka animasi. Format ini menuntut desain fisik booth dan konten digital dirancang bersamaan sejak awal. Kalau konten AR baru dipikirkan setelah booth jadi, marker dan sudut pandangnya hampir selalu meleset.

FormatKebutuhan ruangPemain per sesiYang dibawa pulang
AR mirrorSatu sisi dinding dan area berdiri bermarka1 sampai 2 orangFoto atau video via QR
WebARHampir tidak butuh ruangBanyak orang bersamaanRekaman di ponsel sendiri
AR ke LED besarArea kamera dan layar besar1 pemain, banyak penontonVideo highlight
AR portalBooth yang didesain khususKelompok kecilFoto di dalam set

Kapan AR kalah dari format interaktif lain

AR tidak cocok untuk semua brief. Kalau tujuannya membuat orang bergerak dan berkeringat, misalnya untuk minuman energi atau produk olahraga, lantai interaktif atau game berbasis gerak sering lebih kuat. Aturannya langsung terbaca: injak, tendang, kejar skor. Orang di sekitar ikut terpancing karena gerakan pemain terlihat dari jarak jauh.

Halte VIP XL bercahaya biru pada malam hari dengan proyeksi gambar warna-warni di trotoar depannya
Proyeksi lantai di depan Halte VIP XL terlihat dari beberapa meter, prinsip yang sama dengan lantai interaktif.

Kalau tujuannya mengajak pengunjung masuk ke sebuah dunia, misalnya produk anak yang dikemas sebagai petualangan, VR memberi imersi yang tidak bisa diberikan AR. Konsekuensinya, satu headset hanya untuk satu orang, durasi bermain lebih panjang, dan kru harus membersihkan headset setiap pergantian pemain. Throughput-nya rendah, jadi VR lebih masuk akal untuk aktivasi yang memang mengutamakan kedalaman pengalaman daripada jumlah peserta.

AR unggul ketika brand ingin pengunjung melihat dirinya bersama produk atau karakter, lalu membagikannya. Karena itu AR sering dipakai untuk film, kosmetik, fashion, dan produk yang punya maskot. Jika brief Anda lebih menekankan kompetisi dan hadiah, baca dulu cara menyusun gamifikasi event brand sebelum memutuskan format.

Cek lokasi sebelum memilih konten AR

AR yang gagal di lapangan jarang disebabkan konten yang jelek. Penyebab yang lebih sering adalah kondisi venue yang tidak pernah dicek. Kirim orang ke lokasi pada jam yang sama dengan jadwal acara, karena cahaya atrium pukul 11 siang berbeda jauh dengan pukul 7 malam.

  • Cahaya: sinar matahari dari skylight atau lampu sorot di belakang pengunjung membuat kamera kehilangan bentuk tubuh. Kamera sebaiknya membelakangi sumber cahaya.
  • Latar belakang: kerumunan yang lalu-lalang di belakang pemain mengacaukan body tracking. Backdrop polos di belakang titik berdiri sangat membantu.
  • Internet: uji kecepatan unggah, bukan hanya unduh, bila foto pengunjung dikirim ke server.
  • Listrik: layar, PC, dan lampu tambahan butuh jalur daya stabil. Tanyakan ke pengelola venue kapasitas yang boleh dipakai dan apakah perlu genset.
  • Ruang antre: sediakan area tunggu yang tidak menutup jalur pejalan kaki, karena pengelola mal akan meminta antrean yang meluber dirapikan.

Satu hal lagi yang sering terlupa adalah rencana cadangan. Siapkan konten video loop di layar yang sama, sehingga saat kamera atau PC bermasalah booth tidak terlihat mati di depan pengunjung.

Merancang alur satu sesi di depan layar

Pengunjung mal memutuskan mampir atau tidak hanya dalam beberapa langkah. Alur sesi AR perlu ditulis serapi naskah iklan pendek.

  1. Tarikan dari jauh: layar menayangkan pemain sebelumnya yang sedang beraksi, bukan logo diam. Gerakan manusia di layar lebih memancing rasa ingin tahu.
  2. Instruksi satu kalimat, misalnya "Berdiri di lingkaran, angkat tangan." Kalau butuh dua kalimat, kontennya terlalu rumit.
  3. Momen puncak di detik ke-10 sampai ke-20: kostum berganti, karakter muncul di samping pemain, atau produk berubah bentuk.
  4. Hasil yang dibawa pulang: foto atau video pendek dengan bingkai brand yang tidak menutupi wajah.
  5. Tindak lanjut: QR unduhan yang sekaligus membuka halaman promo, voucher, atau lokasi toko terdekat.

Promotor tetap dibutuhkan. Tugas mereka bukan membagikan brosur, melainkan menyapa orang yang berhenti di depan booth dan memastikan pemain berikutnya sudah siap di titik berdiri saat sesi sebelumnya selesai.

Menyambungkan AR di booth dengan layar LED di sekitarnya

AR di dalam booth hanya terlihat oleh orang yang sudah dekat. Layar LED di dalam venue atau di jalan sekitar bisa memperluas jangkauannya, asal perannya dibagi dengan jelas.

Di dalam mal, layar indoor bisa menjadi panggung kedua. Agora Lifestyle Mall di Tanah Abang, misalnya, punya LED Skydeck berukuran 4 x 7 m serta LED di area Pilar L2 dan Sunken Garden L1. Cuplikan hasil AR dari booth bisa diputar berkala di layar seperti ini agar pengunjung di lantai lain tahu ada aktivitas yang bisa dicoba. Pola yang sama bisa diterapkan di M Bloc, Jl. Panglima Polim, yang memiliki LED Mural dan LED Facade. Konten yang menampilkan wajah pengunjung tetap harus mengikuti aturan tayang pengelola layar dan mendapat persetujuan orang yang tampil.

Di jalan raya, perannya berbeda. LED Robotic Mandarin di Mandarin Oriental, yang menghadap Bundaran HI dengan dua sisi 27 x 9 m dan satu sisi 8 x 16 m, cocok untuk teaser dan pengumuman lokasi aktivasi, bukan untuk QR. Pengendara tidak akan memindai kode dari balik kemudi. Ajakan berbasis QR lebih pas di layar yang dilihat orang dari jarak dekat sambil berdiri atau berjalan pelan, seperti layar indoor mal.

Pembagian peran ini juga memudahkan pengukuran. Scan QR dari layar mal, jumlah sesi di booth, dan unggahan dengan hashtag kampanye bisa dibaca terpisah. Kerangkanya kami bahas di tulisan tentang cara mengukur keberhasilan brand activation.

Foto pengunjung, data pribadi, dan peserta anak

AR experience hampir selalu menghasilkan foto atau video wajah pengunjung. Begitu file itu dikirim ke email atau nomor WhatsApp, brand sedang memproses data pribadi dan UU Pelindungan Data Pribadi ikut berlaku. Praktik yang kami sarankan: tampilkan persetujuan singkat sebelum foto diambil, jelaskan untuk apa foto dipakai, beri opsi mengunduh lewat QR tanpa meninggalkan nomor telepon, dan tetapkan kapan file di server dihapus.

Musim liburan berarti banyak peserta anak. Minta persetujuan orang tua yang mendampingi, dan jangan menayangkan wajah anak di layar publik tanpa izin. Untuk kewajiban hukum yang spesifik pada kampanye Anda, libatkan tim legal brand sejak tahap konsep.

Faktor biaya dan waktu produksi

Biaya AR experience tidak bisa dipukul rata, tetapi faktor penentunya bisa Anda kendalikan sejak brief. Pertama, kerumitan konten: filter wajah sederhana jauh lebih cepat dibuat daripada karakter 3D beranimasi yang merespons gerak seluruh tubuh. Kedua, perangkat: jumlah layar, kamera, dan PC, serta apakah perangkatnya sewa atau dibuat khusus. Ketiga, durasi dan jumlah lokasi, karena aktivasi tiga hari di satu mal berbeda kebutuhannya dengan roadshow lintas kota. Keempat, kru operasional yang menjaga antrean dan perangkat. Kelima, biaya venue, izin dari pengelola lokasi, dan slot tayang LED bila hasil AR ingin ditampilkan di layar.

Soal waktu, sisihkan ruang untuk uji coba di lokasi. Konten yang lancar di studio vendor sering perlu dikalibrasi ulang di venue karena cahaya dan jarak kamera berbeda. Jadwalkan minimal satu uji coba penuh sebelum hari pertama. Bila Anda memakai karakter film atau kartun berlisensi, ajukan materi ke pemegang lisensi lebih awal, karena tahap approval ini sering menjadi bagian yang paling lambat.

Langkah berikutnya untuk tim Anda

Sebelum menghubungi vendor, siapkan tiga jawaban: siapa pengunjung yang ingin ditarik, apa yang harus mereka bawa pulang, serta di mana dan kapan acara digelar. Dengan tiga hal itu, tim kami bisa merekomendasikan format AR, menghitung kebutuhan perangkat, dan menyarankan layar LED pendukung di sekitar lokasi. Lihat cakupan layanan on-ground digital activity, lalu kirim brief singkat lewat WhatsApp +6282288108888 atau halaman kontak untuk rekomendasi dan penawaran.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah pengunjung harus mengunduh aplikasi untuk mencoba AR di event?

Tidak harus. AR mirror memakai layar dan kamera yang sudah terpasang di booth, sedangkan WebAR berjalan langsung di browser ponsel setelah pengunjung memindai QR code.

Lebih baik AR atau photobooth biasa?

Photobooth sudah cukup bila tujuannya foto bermerek yang cepat. AR lebih tepat bila pengunjung perlu berinteraksi dengan produk atau karakter, misalnya mencoba kostum virtual atau berfoto bersama maskot yang bergerak.

Berapa lama waktu menyiapkan AR experience untuk event brand?

Tergantung kerumitan konten, jumlah perangkat, dan proses approval lisensi bila memakai karakter. Filter sederhana jauh lebih cepat daripada karakter 3D penuh. Sertakan satu uji coba di lokasi, lalu hubungi tim kami untuk jadwal sesuai brief Anda.

Apakah hasil AR pengunjung bisa ditayangkan di layar LED?

Bisa didiskusikan, dengan syarat mengikuti aturan tayang pengelola layar dan ada persetujuan dari orang yang tampil. Untuk anak-anak, wajib ada izin dari orang tua.

Apa yang perlu disiapkan brand sebelum brief ke vendor?

Target pengunjung, hasil yang harus dibawa pulang pengunjung, lokasi dan tanggal acara, aset brand atau model 3D produk, serta dokumen lisensi bila memakai karakter berlisensi.

Sedang merencanakan kampanye DOOH atau brand activation?

Ceritakan brand, area target, dan jadwal kampanye Anda – tim kami akan merekomendasikan titik terbaik dan mengirim penawaran khusus.

Artikel terkait

Booth aktivasi brand bertema sepak bola berwarna biru di tepi jalan, pengunjung berkerumun di depan rak produk dan lampu sorot di atap booth Cara Mengukur Keberhasilan Brand Activation dengan KPI yang Bisa Dipertanggungjawabkan Anak memainkan game layar sentuh portrait Chocolatos yang menampilkan proses box packing dalam activation Garudafood Ide Brand Activation di Mall untuk Musim Belanja Akhir Tahun, dari Atrium sampai Layar LED Booth Grab Meeting Point berbentuk kubah hijau dengan tiang penanda di kedua sisinya, karya on-ground creative branding 8infiniooh Creative Branding di Area Publik dengan Halte Bertema, Meeting Point, dan Instalasi Digital
← Semua artikel
Minta Penawaran
10%
Drag View Close play